Tag: inovasi desa

  • PENGGUNAAN DANA DESA UNTUK PROGRAM INOVASI DESA

    PENGGUNAAN DANA DESA UNTUK PROGRAM INOVASI DESA

    JAKARTA – Dalam lima tahun ini pemerintah sudah menggelontorkan dana desa sebesar Rp 257 triliun dan sebagian besar dipakai untuk pembangunan infrastruktur, lima tahun kedepan akan dinaikan menjadi Rp 400 triliun. Tidak hanya untuk infrastruktur tapi pemberdayaan manusia dan pemberdayaan ekonomi desa.

    “Kita lihat desa-desa yang inovasinya bagus sekarang dana desanya atau BUMDes-nya membayar pajak lebih besar dari dana desanya. Bersama bank dunia ada program bursa inovasi desa, kita menyediakan fasilitator untuk masyarakat supaya ide-idenya bisa tergali keluar sehingga dana desanya bisa berinovasi,” ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo saat memberikan arahan pada acara Workshop Pengawasan Program Inovasi Desa (PID) dengan tema “Pengawasan Program Inovasi Desa dalam rangka meningkatkan efektivitas pemanfaatan Dana Desa” di Hotel Sultan Jakarta pada Kamis (4/7).

    Menurutnya, dalam program inovasi desa ini perlu pendampingan. Kendala paling sulit yaitu mengedukasi masyarakat karena beragamnya atau masih rendahnya tingkat pendidikan. Oleh karena itu, Kemendes PDTT melibatkan forum Pertides untuk mengembangkam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan memberikan pendampingan karena banyaknya jumlah desa.

    “Bursa inovasi desa tujuannya adalah mengajak masyarakat untuk berinovasi. Kedua, setiap inovasi tersebut kita dokumentasikan dalam bentuk video atau tulisan. Sehingga bisa ditiru desa-desa lain sampai negara-negara lain,” katanya.

    Menurutnya, pentingnya inovasi dan perlunya mengkloning dari desa-desa sukses. Melalui Bursa inovasi desa ini diberikan fasilitator untuk merangsang masyarakat desa agar kreatifitas dan idenya keluar.

    “Bursa Inovasi Desa penting agar desa-desa yang sukses kita dokumentasikan hasil inovasinya dalam bentuk tulisan dan video. Sudah ada 11.000 dokumen dalam bentuk tulisan dan video. Kami berharap tiap desa bikin bioskop desa. Inovasi-inovasi, pelatihan-pelatihan, bisa dilakukan di bioskop desa,” sambungnya.

    Lebih lanjut, Menteri Eko mengatakan bahwa dengan inovasi desa, dana desa dipakai untuk hal-hal produktif. Sehingga pengurangan kemiskinan akan lebih cepat.

    “Saya apresiasi workshop ini. Dana inovasi desa besar. Mudah-mudahan dalam workshop ini bisa merumuskan program-program inovasi desa,” harapnya.

    Sejalan dengan hal tersebut, Plt Inspektur Jenderal Ansar Husen mengatakan bahwa diadakannya workshop pengawasan ini untuk memastikan program inovasi desa yang bersumber dari dana desa agar bisa berjalan sesuai ketentuan yang berlaku dan untuk kesejahteraan masyarakat.

    Workshop ini diharapkan pemanfaat dana desa untuk program inovasi desa lebih tepat sasaran dan berdaya guna.

    Inspektorat Jenderal sebagai APIP juga ikut bersinergi dengan inspektorat kementerian lain dan inpektorat daerah untuk mengawal dana desa dan program inovasi desa.

    “Dalam rangka pengawasan program inovasi desa ini kita melakukan monitoring dan evaluasi secara random di beberapa kabupaten terpilih yang dilaksakan bersama Satgas dana desa. Kegiatan workshop ini untuk membangun sinergitas antara beberapa Kementerian/lembaga, daerah dan para pelaku/pelaksana dengan inovasi desa agar program ini bisa berjalan lebih lancar dan efektif,” terangnya.

    Ia melanjutkan, pengawasan langsung dilaksanakan di inspektorat kabupaten. Itjen berupaya mengkoordinasikan terutama dengan pemda melalui inspektorat daerah agar dapat melakukan pengawasan terhadap penggunaan dana desa. Pengawasan terpenting adalah dari masyarakat.

    “Untuk inovasi desa tidak semua daerah memliki potensi dan SDM yang sama.

    Monitoring dan evaluasi yang dilakukan Itjen juga melibatkan Ditjen PPMD dan juga melalui Satgas dana desa. Kita menetapkan beberapa desa termasuk penyerapan anggarannya baik penyimpangan dari penggunaan dana desanya kecil maupun dari program-programnya yang berhasil, ini kriteria yang dipakai dalam monitoring,” paparnya.

     

    sumber: https://www.kemendesa.go.id/view/detil/2910/penggunaan-dana-desa-untuk-program-inovasi-desa

  • Replikasi Inovasi Desa: Kecamatan Kras Kediri Berkunjung ke Desa Sukowilangun

    Replikasi Inovasi Desa: Kecamatan Kras Kediri Berkunjung ke Desa Sukowilangun

    Menggaungnya program inovasi desa mulai tahun 2017 hingga tahun 2018 ini membuat desa berlomba-lomba membuat inovasi. Program inovasi desa berpeluang kepada desa untuk membranding kegiatan inovasi yang ada di desa agar dikenal oleh masyarakat luas. Selain itu, juga memfasilitasi desa dalam proses replikasi antar wilayah atau desa. Inovasi desa yang dilakukan beragam, mulai dari inovasi bidang layanan publik desa, layanan sosial dasar, bidang pertanian, bidang wisata, dan pengembangan ekonomi desa.

    Desa Sukowilangun Kecamatan Kalipare merupakan salah satu desa yang konsisten dan tanggap terhadap program inovasi desa ini. Di tahun 2017 Sukowilangun memunculkan video profiling berjudul BUMDES Jaman Now. Tahun 2018 Desa Sukowilangun kembali memunculkan video tentang inovasi Mina Padi di Lahan Tadah Hujan. Dukungan dan partisipasi masyarakat membuat inovasi di desa sukowilangun semakin menggeliat.

    Tepat pada hari rabu tanggal 19 Desember 2018, Desa Sukowilangun mendapat kunjungan dari Kecamatan Kras Kabupaten Kediri Jawa Timur. Rombongan berjumlah 40 orang tersebut berkunjung ke Desa Sukowilangun untuk belajar pengelolaan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Dalam rombongan Kecamatan Kras Kabupaten Kediri terdiri dari unsur perangkat desa, Pedamping Desa (PD, PLD), perangkat kecamatan yang diwakili oleh Sekretaris Kecamatan Kras. Acara studi dimulai pukul 10.00WIB di Balai Desa Sukowilangun. Diawali dengan sambutan dilanjutkan dengan materi tentang BUMDes Sukowilangun. Kepala Desa Sukowilangun dalam sambutannya menyampaikan bahwa, “kunjungan ini tidak untuk membeda-bedakan, tapi untuk saling mengisi”. Sedangkan Arifin Camat Kalipare, menyampaikan “potensi di kecamatan kalipare ini beragam, semoga dapat memenuhi kebutuhan studi yang tujuannya adalah menuntut ilmu.

    Setelah materi selesai disampaikan, peserta diajak untuk berkunjung di unit usaha BUMDes dan kelompok tani suka maju diantaranya berkunjung ke keramba ikan, lahan mina padi lahan tadah hujan, bank sampah anggrek, dilanjutkan dengan makan siang bersama di taman suko. Harapan adanya kegiatan kunjungan dari luar daerah ini akan memberikan manfaat pada daerah lain sehingga praktik baik inovasi desa dapat diterapkan sesuai dengan kultur wilayah masing-masing. Selain itu, desa di luar Skowilangun dapat termotivasi memunculkan potensi desa khususnya kecamatan kalipare, sehingga penyerapan dana yang bersumber dari dana desa memberikan kemanfaatan yang luas yang mempunyai prinsip memajukan dan memandirikan desa. (PLD_PD)

     

    foto kegiatan

  • Kunjungan 2 Desa Kecamatan Turen Replikasi Inovasi Mina Padi Desa Sukowilangun

    Kunjungan 2 Desa Kecamatan Turen Replikasi Inovasi Mina Padi Desa Sukowilangun

    Pasca Bursa Inovasi Desa (BID) Kabupaten Malang yang diadakan pada 15 Oktober 2018 di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Desa diminta untuk mencari inovasi yang sesuai dengan kondisi desa masing-masing. Setelah menemukan inovasi yang diperlukan, desa mengisi kartu komitmen. Kartu komitmen menjadi bukti ketertarikan inovasi di suatu desa. Tahapan inovasi selanjutnya adalah replikasi inovasi. Replikasi memberikan peluang kepada desa untuk berkunjung dan melihat langsung inovasi di desa yang telah dipilih.

    Hari Kamis tanggal 8 November 2018, Desa Sukowilangun Kecamatan Kalipare menerima kunjungan dari Desa Undaan dan Desa Tawangrejeni Kecamatan Turen. Kunjungan ini merupakan tindaklanjut dari kartu komitmen yang sudah diisi oleh desa tersebut. Berkunjung ke Desa Sukowilangun untuk belajar bagaimana mina padi di lahan tadah hujan dibuat. Ronmbongan yang hadir terdiri dari Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Turen, Pendamping Desa (PD) Kecamatan Turen, dan Perangkat Desa dari kedua desa tersebut. Rombongan sampai di balai desa pukul 10.30WIB, diterima TPID Kecamatan Kalipare, Pendamping Desa (PD), Pendamping Lokal Desa (PLD), Kepala Desa Sukowilangun. Kegiatan seremonial diawali dengan sambutan Kepala Desa Sukowilangun, dilanjutkan dengan penyampaian sekilas tentang Mina Padi di Lahan Tadah Hujan. Antusias peserta kunjungan terlihat menyimak serius materi yang di sampaikan di Balai Desa Sukowilangun itu.

    Setelah penyampaian materi, peserta diajak langsung ke lahan mina padi. Lokasi mina padi tertelak di Dusun Kopral berjarak sekitar 500 meter dari kantor Desa Sukowilangun. Melihat kondisi lahan mina padi menjadi banyak pelajaran yang dapat dipetik oleh rombongan dari desa undaan dan tawangrejeni. Diantaranya tentang teknik tanam padi di lahan kering, pengaturan sirkulasi air, bahan dan biaya untuk membuat media tanam mina padi, sharing penanganan hama tanaman, proses pembesaran ikan.

    Sesuai dengan rekap hasil BID Kabupaten Malang, terdapat 4 desa yang tertarik untuk mereplikasi inovasi Mina Padi di Lahan Tadah Hujan desa sukowilangun. Desa yang tertarik diantaranya; Desa Undaan, Desa Tawangrejeni, Desa Talangsuko, Desa Sitirejo. Penyesuain jadwal kunjungan untuk kegiatan replikasi inovasi masih terus dikoordinasikan agar dapat maksimal dalam proses replikasi inovasi. Sharing informasi kepada Desa Luar Sukowilangun diharapkan mampu memberi bekal untuk melakukan inovasi dalam kegiatan menanam padi.

    Inovasi Mina Padi di Lahan Tadah Hujan Desa Sukowilangun menjadi inovasi menanam padi tanpa harus bergantung pada musim hujan. Kegiatan penanaman padi dengan metode mina padi terus digalakkan Kelompok Tani Suka Maju secara bertahap di desa Sukowilangun khususnya di lahan-lahan yang potensial. Harapan kedepan lahan-lahan yang biasanya menganggur di musim kemarau dapat dimaksimalkan dengan Inovasi Mina Padi di Lahan Tadah Hujan. Selain mudah dan murah, metode ini juga menjadi peluang usaha yang menjanjikan. (By.PLD_PD)

     

    Foto Kegiatan